Kamis, 07 Januari 2016

About my life



Tugas Softskill ke-3
Hallo, perkenalkan nama saya Syarifatunnisa, saya biasa dipanggil Rifa atau yang lebih akrab lagi Ipeh. Saya terlahir dari seorang ayah bernama Amruddin dan seorang ibu bernama Yurmanita, saya sendiri anak ke-3 dari 7 bersaudara, yaah memang kami masuk kedalam keluarga besar (besar-besar orangnya) hihi. Sewaktu SD saya bersekolah di Madrasah Ibtidaiyyah negeri 2, sedang SMP dan SMA saya bersekolah di Pesantren Persatuan Islam 69 Matraman, dan sekarang saya melanjutkan studi di perguruan tinggi Universitas Gunadarma.
Saya ingin sedikit bercerita tentang kejadian unik sewaktu saya dilahirkan, ketika itu pada tanggal 4 November 1994 hari baru menunjukan pukul 07.00 pagi, ayah kala itu sedang mengantar kaka saya pergi kesekolah dan tinggallah ibu dirumah sendiri. Seperti biasa rutinitas di pagi hari ibu adalah membersihkan rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, setelah membersihkan rumah ibu mencuci baju dan ketika baru mendapat 4 potong baju yang di cuci, ibu merasakan rasa mules yang teramat sangat tapi ibu tidak berfikir macam-macam dan ibu melanjutkan kegiatan mencucinya, namun semakin lama di rasa, rasa mules itu semakin menjadi jadi disusul dengan munculnya bulir-bulir keringat sebesar biji jagung di tubuh ibu. Dan ternyata ibu sudah tiba waktu untuk melahirkan saya, karena posisi saat itu ibu sendiri dirumah ibu pun berteriak minta tolong kepada tetangga sebelah rumah, tetangga saya pun bergegas untuk menelfon ayah saya. Setibanya ayah dirumah, ayah langsung memanggil taksi untuk membawa ibu kerumah sakit terdekat yaitu rumah sakit M. Husni Tamrin. Sepanjang perjalanan ibu semakin merasa kalau aku sudah ingin keluar tapi karena keadaan saat itu ayah panik lalu dengan refleknya ayah malah mendorong kembali kepala saya yang sudah sedikit keluar ini dan ibu pun kemudian berteriak kesakitan karena bayinya didorong untuk masuk kembali, haha, tapi karena memang sudah tidak kuat menahan lagi akhirnya saya pun terlahir dengan mudahnya diatas taksi dalam perjalanan menuju rumah sakit hanya dengan bantuan tangan ayah saya hingga sampai saat ini saya terkenal dengan sebutan anak taksi, hahaha. Yaa begitulah sepenggal kejadian unik tentang kelahiran saya.
Kalau membahas tentang cita-cita, cita-cita saya semenjak kecil selalu berubah-ubah. Dulu waktu saya duduk di bangku sekolah dasar, saya ingin sekali menjadi seorang polisi wanita yang dulu saya anggap sangat “Keren” dengan profesi tersebut, namun seiring berjalannya waktu saya berubah minat menjadi polwan karena seringnya melihat pemberitaan negatif tentang polisi di indonesia yang semena-mena terhadap rakyatnya, dulu ketika itu saya amat membenci polisi dan saya malah dengan tega nya men “judge” polisi dengan sebutan pengambil hak rakyat. Beralih dari cita-cita menjadi seorang polisi wanita saya ingin sekali menjadi seorang fotografer handal yang nantinya dapat menghasilkan karya-karya luar biasa sehingga saya dapat mengadakan pameran tunggal dan mempunyai studio foto sendiri dirumah, dan Alhamdulillah untuk cita-cita dan hobbbi saya yang satu ini cukup tersalurkan dengan masuknya saya ke orgnisasi fotografi kampus yang bernama “SNAP GUNADARMA (Sarana Nongkrong Anak fotografi)”. Di SNAP saya belajar banyak hal akan fotografi yang nantinya akan menunjang karir saya sebagai fotografer handal suatu saaat nanti, amiin. Selain belajar fotografi di SNAP saya mempunyai banyak keluarga baru baik dari intern kampus maupun luar kampus karena seringnya menghadiri pameran fotografi di kampus lain, yang berujung pada banyaknya sahabat yang saya punya, yaa saya memang sangat menyukai banyak teman sejak kecil, karena bagi saya mempunyai banyak teman akan sangat menguntungkan. Dan cita-cita saya yang belum terwujud untuk saat ini ialah menjadi seorang Reporter suatu berita, dan semoga jika lulus kelak akan terbuka jalan bagi saya untuk mencapai cita-cita itu, amiin.
Saya juga mempunyai sedikit cerita tentang suka-duka untuk bisa berkuliah. Sejak duduk di bangku sekolah kelas 2 SMA saya sudah bermimpi untuk menjadi seorang mahasiswi, dan semakin hari harapan itu semakin tumbuh dan melekat kuat di fikiran saya. Namun saat itu ada suatu kendala yang saya alami yaitu keadaan financial dari orang tua yang belum mampu untuk menguliahi saya, saat itu rasanya sedih, frustasi, putus asa, dan ingin marah, walau saya tak tahu harus kepada siapa saya luapkan emosi ini. Saya marah kenapa Tuhan tak memberi saya kesempatan untuk kuliah di tahun ini seperti teman-teman yang lain. Tiap hari saya terkukung kesedihan melihat teman-teman lain yang sudah mulai kuliah, saya teramat sangat iri, hingga waktu itu saya sempat menjadi manusia yang unsos terhadap kehidupan sekitar, ya mungkin itu suatu bentuk perwujudan kekesalan yang bisa saya luapkan. Saya sempat mencoba berbagai beasiswa yang tersedia saat itu untuk menunjang kuliah saya dan memang belum rejeki tidak ada beasiswa manapun yang tembus.
Dan akhirnya saya memutuskan untuk mencari kerja sehingga mengisi waktu luang sembari melupakan kesedihan ini. Saya pernah nekat berkeliling kota jakarta hanya dengan membawa uang Rp.7000 saat itu, denganminimnya pengetahuan yang saya punya seputar pekerjaan di ibu kota saya nekat untuk mencari kerja. Dari rumah saya berjalan kaki hingga ke halte busway dan saya melanjutkan perjalanan menggunakan busway, tak lama saya sampai di daerah grogol. Saya melanjutkan berjalan kaki untuk mencari pekerjaan. Dengan teriknya matahari yang saat itu saya merasa haus, tapi saya galau karena uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos pulang naik busway. Akhirnya saya putuskan untuk menahan rasa haus ini dengan tetap melanjutkan jalan kaki. Namun memang pertolongan Allah itu pasti untuk hambaNya yang sabar, tak tahu ada apa tiba-tiba ada seorang ibu yang menawarkan saya segelas minuman tanpa sebab, saat itu dia hanya bilang “minum dik, saya lihat sepertinya adik kelelahan” dengan keadaan saat itu akhirnya saya dengan malu-malu menerima pertolongan Allah saat itu yang datang melalui seorang ibu berhati baik ini. Dengan malu-malu pun saya menenggak habis minuman itu sambil tak henti mengucapkan terimaksih kepada ibu itu. Ssatu hal yang saya sadari Allah tidak tidur, tetaplah berusaha sekuat mampumu.
Saya pun kembali melamar di suatu toko obat yaitu apotik century karena saya lihat persyaratan yang diajukan dapat saya penuhi yaitu dengan ijazah SMA dan dengan sallary yang lumayan tinggi untuk anak tamatan SMA seperti saya saat itu. Singkat cerit saya pergi ke kantor pusat untuk melamar disana, setelah menunggu beberapa hari akhirnya saya mendapat panggilan untuk bekerja disana. Harapan baru pun muncul di hati saya, saya amat sangat bersemangat untuk segera memulai pekerjaan baru ini. Keesokan harinya saya pergi ke kantor itu untuk memulai pekerjaan, namun saya dikejutkan dengan peraturan yang ada yang tidak diberitahu kepada saya terlebih dahulu sebelumnya. Peraturan itu ialah apoteker tidak diperkenankan memakai jilbab / kerudung. Pupus sudah harapan yang sempat tumbuh ini, lalu dengan lankah gontai saya kembali kerumah setelah sebelumnya meminta diri untuk tidak menerima pekerjaan ini, pimpinan perusahaan sempat membujuk saya untuk melanjutkan pekerjaan ini, dengan di iming-imingi gaji yang cukup besar saya dibujuk untuk melepas hijab, dan alhamdulillah saya tetap menolak pekerjaan itu.
Saya kembali kerumah dengan perasaan hampa dan putus asa, saya sedih membayangkan apa yang akan saya katakan kepada kedua orang tua saya nanti. Dan sepulangnya dirumah saya langsung terduduk lemas di ruang tamu, dan tak lama kemudian terdengar bunyi dering telfon yang ternyata bersumber dari henfon ayah, saya terpaksa mengangkatnya karena ayah sedang shalat jumat. Ketika saya angkat ternyata dari pihak Gunadarma menlfon saya yang intinya menyuruh saya datang esok hari kekampus untuk melengkapi berkas-berkas yang ada, yang ternyata isinya saya lulus beasiswa yang dulu sempat saya daftar ketika berusaha ingin kuliah dulu. Sungguh Allah sudah merencanakan hal indah dibalik semua yang telah terjadi asal kita selalu bersyukur dan berprasangka baik kepadaNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar