Tugas
Softskill ke-3
Hallo,
perkenalkan nama saya Syarifatunnisa, saya biasa dipanggil Rifa atau yang lebih
akrab lagi Ipeh. Saya terlahir dari seorang ayah bernama Amruddin dan seorang
ibu bernama Yurmanita, saya sendiri anak ke-3 dari 7 bersaudara, yaah memang
kami masuk kedalam keluarga besar (besar-besar orangnya) hihi. Sewaktu SD saya
bersekolah di Madrasah Ibtidaiyyah negeri 2, sedang SMP dan SMA saya bersekolah
di Pesantren Persatuan Islam 69 Matraman, dan sekarang saya melanjutkan studi
di perguruan tinggi Universitas Gunadarma.
Saya
ingin sedikit bercerita tentang kejadian unik sewaktu saya dilahirkan, ketika itu
pada tanggal 4 November 1994 hari baru menunjukan pukul 07.00 pagi, ayah kala
itu sedang mengantar kaka saya pergi kesekolah dan tinggallah ibu dirumah
sendiri. Seperti biasa rutinitas di pagi hari ibu adalah membersihkan rumah dan
mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, setelah membersihkan rumah ibu mencuci
baju dan ketika baru mendapat 4 potong baju yang di cuci, ibu merasakan rasa
mules yang teramat sangat tapi ibu tidak berfikir macam-macam dan ibu
melanjutkan kegiatan mencucinya, namun semakin lama di rasa, rasa mules itu
semakin menjadi jadi disusul dengan munculnya bulir-bulir keringat sebesar biji
jagung di tubuh ibu. Dan ternyata ibu sudah tiba waktu untuk melahirkan saya,
karena posisi saat itu ibu sendiri dirumah ibu pun berteriak minta tolong
kepada tetangga sebelah rumah, tetangga saya pun bergegas untuk menelfon ayah
saya. Setibanya ayah dirumah, ayah langsung memanggil taksi untuk membawa ibu
kerumah sakit terdekat yaitu rumah sakit M. Husni Tamrin. Sepanjang perjalanan
ibu semakin merasa kalau aku sudah ingin keluar tapi karena keadaan saat itu
ayah panik lalu dengan refleknya ayah malah mendorong kembali kepala saya yang
sudah sedikit keluar ini dan ibu pun kemudian berteriak kesakitan karena
bayinya didorong untuk masuk kembali, haha, tapi karena memang sudah tidak kuat
menahan lagi akhirnya saya pun terlahir dengan mudahnya diatas taksi dalam
perjalanan menuju rumah sakit hanya dengan bantuan tangan ayah saya hingga
sampai saat ini saya terkenal dengan sebutan anak taksi, hahaha. Yaa begitulah
sepenggal kejadian unik tentang kelahiran saya.
Kalau
membahas tentang cita-cita, cita-cita saya semenjak kecil selalu berubah-ubah.
Dulu waktu saya duduk di bangku sekolah dasar, saya ingin sekali menjadi
seorang polisi wanita yang dulu saya anggap sangat “Keren” dengan profesi
tersebut, namun seiring berjalannya waktu saya berubah minat menjadi polwan
karena seringnya melihat pemberitaan negatif tentang polisi di indonesia yang
semena-mena terhadap rakyatnya, dulu ketika itu saya amat membenci polisi dan
saya malah dengan tega nya men “judge” polisi dengan sebutan pengambil hak
rakyat. Beralih dari cita-cita menjadi seorang polisi wanita saya ingin sekali
menjadi seorang fotografer handal yang nantinya dapat menghasilkan karya-karya
luar biasa sehingga saya dapat mengadakan pameran tunggal dan mempunyai studio
foto sendiri dirumah, dan Alhamdulillah untuk cita-cita dan hobbbi saya yang
satu ini cukup tersalurkan dengan masuknya saya ke orgnisasi fotografi kampus
yang bernama “SNAP GUNADARMA (Sarana Nongkrong Anak fotografi)”. Di SNAP saya
belajar banyak hal akan fotografi yang nantinya akan menunjang karir saya
sebagai fotografer handal suatu saaat nanti, amiin. Selain belajar fotografi di
SNAP saya mempunyai banyak keluarga baru baik dari intern kampus maupun luar
kampus karena seringnya menghadiri pameran fotografi di kampus lain, yang
berujung pada banyaknya sahabat yang saya punya, yaa saya memang sangat menyukai
banyak teman sejak kecil, karena bagi saya mempunyai banyak teman akan sangat
menguntungkan. Dan cita-cita saya yang belum terwujud untuk saat ini ialah
menjadi seorang Reporter suatu berita, dan semoga jika lulus kelak akan terbuka
jalan bagi saya untuk mencapai cita-cita itu, amiin.
Saya
juga mempunyai sedikit cerita tentang suka-duka untuk bisa berkuliah. Sejak
duduk di bangku sekolah kelas 2 SMA saya sudah bermimpi untuk menjadi seorang
mahasiswi, dan semakin hari harapan itu semakin tumbuh dan melekat kuat di
fikiran saya. Namun saat itu ada suatu kendala yang saya alami yaitu keadaan
financial dari orang tua yang belum mampu untuk menguliahi saya, saat itu
rasanya sedih, frustasi, putus asa, dan ingin marah, walau saya tak tahu harus
kepada siapa saya luapkan emosi ini. Saya marah kenapa Tuhan tak memberi saya
kesempatan untuk kuliah di tahun ini seperti teman-teman yang lain. Tiap hari
saya terkukung kesedihan melihat teman-teman lain yang sudah mulai kuliah, saya
teramat sangat iri, hingga waktu itu saya sempat menjadi manusia yang unsos
terhadap kehidupan sekitar, ya mungkin itu suatu bentuk perwujudan kekesalan
yang bisa saya luapkan. Saya sempat mencoba berbagai beasiswa yang tersedia
saat itu untuk menunjang kuliah saya dan memang belum rejeki tidak ada beasiswa
manapun yang tembus.
Dan
akhirnya saya memutuskan untuk mencari kerja sehingga mengisi waktu luang sembari
melupakan kesedihan ini. Saya pernah nekat berkeliling kota jakarta hanya
dengan membawa uang Rp.7000 saat itu, denganminimnya pengetahuan yang saya
punya seputar pekerjaan di ibu kota saya nekat untuk mencari kerja. Dari rumah
saya berjalan kaki hingga ke halte busway dan saya melanjutkan perjalanan
menggunakan busway, tak lama saya sampai di daerah grogol. Saya melanjutkan
berjalan kaki untuk mencari pekerjaan. Dengan teriknya matahari yang saat itu
saya merasa haus, tapi saya galau karena uang yang tersisa hanya cukup untuk
ongkos pulang naik busway. Akhirnya saya putuskan untuk menahan rasa haus ini
dengan tetap melanjutkan jalan kaki. Namun memang pertolongan Allah itu pasti
untuk hambaNya yang sabar, tak tahu ada apa tiba-tiba ada seorang ibu yang
menawarkan saya segelas minuman tanpa sebab, saat itu dia hanya bilang “minum
dik, saya lihat sepertinya adik kelelahan” dengan keadaan saat itu akhirnya
saya dengan malu-malu menerima pertolongan Allah saat itu yang datang melalui
seorang ibu berhati baik ini. Dengan malu-malu pun saya menenggak habis minuman
itu sambil tak henti mengucapkan terimaksih kepada ibu itu. Ssatu hal yang saya
sadari Allah tidak tidur, tetaplah berusaha sekuat mampumu.
Saya
pun kembali melamar di suatu toko obat yaitu apotik century karena saya lihat
persyaratan yang diajukan dapat saya penuhi yaitu dengan ijazah SMA dan dengan
sallary yang lumayan tinggi untuk anak tamatan SMA seperti saya saat itu.
Singkat cerit saya pergi ke kantor pusat untuk melamar disana, setelah menunggu
beberapa hari akhirnya saya mendapat panggilan untuk bekerja disana. Harapan
baru pun muncul di hati saya, saya amat sangat bersemangat untuk segera memulai
pekerjaan baru ini. Keesokan harinya saya pergi ke kantor itu untuk memulai
pekerjaan, namun saya dikejutkan dengan peraturan yang ada yang tidak
diberitahu kepada saya terlebih dahulu sebelumnya. Peraturan itu ialah apoteker
tidak diperkenankan memakai jilbab / kerudung. Pupus sudah harapan yang sempat
tumbuh ini, lalu dengan lankah gontai saya kembali kerumah setelah sebelumnya
meminta diri untuk tidak menerima pekerjaan ini, pimpinan perusahaan sempat
membujuk saya untuk melanjutkan pekerjaan ini, dengan di iming-imingi gaji yang
cukup besar saya dibujuk untuk melepas hijab, dan alhamdulillah saya tetap
menolak pekerjaan itu.
Saya
kembali kerumah dengan perasaan hampa dan putus asa, saya sedih membayangkan
apa yang akan saya katakan kepada kedua orang tua saya nanti. Dan sepulangnya
dirumah saya langsung terduduk lemas di ruang tamu, dan tak lama kemudian
terdengar bunyi dering telfon yang ternyata bersumber dari henfon ayah, saya
terpaksa mengangkatnya karena ayah sedang shalat jumat. Ketika saya angkat
ternyata dari pihak Gunadarma menlfon saya yang intinya menyuruh saya datang
esok hari kekampus untuk melengkapi berkas-berkas yang ada, yang ternyata
isinya saya lulus beasiswa yang dulu sempat saya daftar ketika berusaha ingin
kuliah dulu. Sungguh Allah sudah merencanakan hal indah dibalik semua yang
telah terjadi asal kita selalu bersyukur dan berprasangka baik kepadaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar